Articles

CSAP Anggarkan Capex Rp 250 Milyar

litemjakarta.com, Jakarta - PT Catur Sentosa Tbk (CSAP), distributor bahan bangunan dan bahan-bahan kimia lainnya, hingga akhir tahun 2017 menargetkan penjualan sebesar Rp 9 triliun dengan laba bersih Rp 90 miliar.

Untuk mendukung target tersebut, perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 250 miliar pada tahun ini. Dana tersebut bersumber dari kas internal dan pinjaman perbankan.

"Kami akan kembangkan segmen ritel modern dengan menambah outlet Mitra 10," kata Direktur Keuangan PT Catur Sentosa, Tjia Tjhin Hwa usai RUPS perseroan di Jakarta, Rabu (10/5).

Dana capex kata dia, sekitar Rp 150 miliar akan dipergunakan untuk segmen ritel moderen atau menambah gerai Mitra10. Sisanya sebesar Rp 100 miliar untuk segmen distribusi.

“Tahun ini, perseroan akan membuka 4 gerai Mitra10 di Pantai Indah Kapuk (Jakarta Utara), Sidoarjo (Jawa Tengah), Harapan Indah (Bekasi), dan Cikarang (Jawa Barat). "Dengan demikian, CSAP akan memiliki 28 outlet Mitra10," jelas Tjia.

Pada tahun ini CSAP akan membuka cabang distribusi bahan bangunan di Bojonegoro (Jawa Timur). Perseroan juga akan membuka cabang distribusi fast moving consumer good (FMCG) untuk principal P&G di lima provinsi yaitu di Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung.

"Kami juga telah ditunjuk oleh Johnson & Johnson, SC Johnson dan Samyang Indonesia untuk mendistribusikan produk mereka, "pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Catur Sentosa Adiprana juga membagikan dividen Rp 3,5 per saham atau senilai Rp 14,18 miliar. Dividen tersebut setara dengan 19,61 persen dari laba bersih tahun 2016 yang tercatat Rp 72,31 miliar.

Corporate Secretary Catur Sentosa Adiprana Idrus H. Widjajakusuma menuturkan, rencana pembagian dividen tersebut telah disetujui pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, hari ini.

Saat ini, CSAP mengoperasikan 41 cabang distribusi bahan bangunan di 40 kota, 4 cabang distribusi kimia, 36 area distribusi, 25 toko Mitra10 dan 10 showrooms Atria.

FIFGROUP Terus Tingkatkan Pembiayaan di Tahun 2017

litemjakarta.com, Jakarta - Hingga April 2017 , total pembiayaan yang telah di salurkan oleh PT. Federal International Finance mengalami kenaikan sebesar 10,65% dari Rp 9,65 Triliun pada April 2016 menjadi Rp 10,67 triliun pada April 2017.

Sesuai dengan hasil keputusan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang di selenggarakan pada 6 April 2017, Margono Tanuwidjaja diangkat sebagai Presiden Direktur perusahaan menggantikan Suhartono yang sebelumnya tlah memimpin perusahaan selama 10 tahun sejak tahun 2007. Margono sebelumnya telah memegan beberapa posisi penting di beberapa perusahaan yang tergabung di dalam grup Astra, seperti PT. Astra Honda Motor, PT Astra International Tbk – Honda Sales Operation (Astra otor), dan PT Astra Sedaya Finance.

Di bawah kepemimpinan Margono, FIFGroup berkomitmen untuk terus meningkatkan pembiayaan dengan mengedepankan pelayanan yang unggul serta sinergi yang berkesinambungan. “Sesuai dengan tema HUT FIFGroup yang ke-28 tahun ini, kami ingin terus melayani untuk membawa kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia”. Tutur Margono.

Di akhir tahun 2016, PT Federal International Finance (FIFGroup) mencatatkan kinerja pendapatan pembiayaan tumbuh 12,01% dengan pendapatan pembiayaan sebesar Rp 9, 48 Triliun naik dari capaian 2015 yang tercatat sebesar Rp 8,46 triliun. Namun secara keseluruhan total pembiayaan perusahaan naik 13,21% dari Rp28,81 triliun pada 2015 menjadi Rp 32,62 triliun pada 2016.

Di tahun 2016, FIFGroup juga tercatat telah melaunching beberapa terobosan baru seperti Digital Application Form, SAFARI (Satu FIFGroup Bagi Negeri), sebuah mobile channel FIFGroup untuk menjangkau pelanggan di berbagai penjuru tanah air, dan mentimun, e-commerce pertama mili Indonesia. Pada tahun yang sama FIFGroup juga menyelenggarakan beberapa program promosi seperti undian berhadiah Umrahh dan nonton bersama Moto GP.

Di tahun 2016, perusahaan tlah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 28,91 triliun. Dari pencapaian itu, paing banyak menyumbang adalah penjualan sepeda motor baru dan bekas melalui brand FIFASTRA yang telah membiayai 1.492.969 item dengan nilai Rp 21,49 triliun.

SPEKTRA, sebagai divisi yang membiayai elektronik dan multiguna kinerjanya juga cukup baik,. 854.538 item dibiayai dengan nilai Rp 3,37 triliun. Unit usaha terakhir dan paling baru, AFTRA, brand pembiayaan untuk roda empat telah membiayai 10.387 mobil atau senilai Rp 664,48 miliar. Sedangkan AMITRA, brand dengan platform pembiayaan syariah sudah memberangkatkan sekitar 252 orang jamaah tanah air untuk ibadah Umrah di tanah suci atau senilai Rp5,4 miliar.

Laba kotor perusahaan juga tercatat tumbuh sebesar 14,11% yakni dari Rp 6,35 triliun pada 2015 menjadi Rp 7,24 triliun pada 2016. Sedangkan laba bersih perusahaan naik 20,40% daari Rp 1,58 triliun menjadi Rp 1,9 triliun pada 2016.

Pada 2016 komposisi sumber pembiayaan perusahaan berasal dari obligasi sebesar Rp 5,5 triliun, sedangkan pinjaman sebesar Rp 15,45 triliun. Dengan capaian ini maka aset FIFGroup tumbuh 2,92% dari Rp 30,51 triliun pada 2015 menjadi Rp 29,65 triliun.

Sepanjang 2016, FIFGroup tercatat memperoleh beberapa penghargaan dalam berbagai bidang, seperti apresiasi oleh APPI sebagai Best Multifinance Comapny dengan aset di atas 5 triliun, Best of the Best Across Industro oleh Tempo Media Group dalam SPEX2 ward, The Best Corporate Communication oleh Indonesia Multifinance Award dan Sindo Weekly, dan Padmamitra Award oleh Kementerian Sosial atas komitmen FIFGROUP dalam pengentasan kemiskinan.

Mencegah Infeksi Melalui Praktek Hand Hygiene

Litefmjakarta.com, Jakarta - Infeksi nosokomial, atau yang disebut sebagai Health Care-Associated Infections (HCAIs), merupakan infeksi yang menjangkit tubuh pasien pada saat berada di rumah sakit, dan dapat berkembang menjadi infeksi yang parah. HCAI merupakan ancaman besar bagi keselamatan pasien karena dapat memperpanjang masa rawat inap dan merupakan salah satu penyebab utama kematian.

Di negara berkembang termasuk Indonesia, prevalensi penularan infeksi meningkat hingga 40%. Bahkan, 50% bayi baru lahir yang terjangkit infeksi nosocomial memiliki tingkat probabilitas kematian lebih tinggi hingga 12 % - 52%. Penelitian lebih lanjut mengemukakan bahwa infeksi nosokomial di rumah sakit diakibatkan oleh kurangnya kepatuhan para tenaga kesehatan.

Rata-rata kepatuhan tenaga kesehatan di Indonesia dalam hal mencuci tangan hanya sekitar 20%-40%. Penyebab lainnya adalah kurangnya pengawasan, praktek pencegahan yang buruk dan tidak tepat, serta keterbatasan informasi mengenai pengendalian infeksi di rumah sakit.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejumlah tindakan preventif telah dilakukan, salah satunya dengan adanya aturan untuk membentuk komite pengendalian infeksi di setiap rumah sakit, dan tentunya melalui program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan menerapkan program hand hygiene.

Hand hygiene adalah suatu upaya atau tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun antiseptik pada saat mencuci tangan dengan air mengalir. Atau, bisa juga menggunakan handrub yang mengandung alkohol sesuai dengan langkah-langkah sistematik yang ditentukan untuk mengurangi jumlah bakteri yang tersebar di tangan. 

Hand hygiene merupakan salah satu kunci utama dalam program pencegahan dan pengendalian infeksi. Berdasarkan penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO), praktek hand hygiene yang sesuai dengan aturannya dapat mengurangi resiko infeksi nosokomial hingga 40%.  Selain itu, hand hygiene merupakan aktivitas yang sejalan dengan kampanye global Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan tema “SAVE LIVES: Clean Your Hands” mengenai pentingnya penerapan hand hygiene yang baik dan benar di rumah sakit dan fasyankes.

"sejak Oktober 2007, WHO telah mencanangkan kampanye hand hygiene global pertama ‘Clean Care is Safer Care’ yang kemudian berubah menjadi “SAVE LIVES: Clean Your Hands. Kampanye sudah berjalan selama 10 tahun dan berfokus pada praktek hand hygiene yang tepat untuk mencegah penyebaran infeksi nosokomial (HCAIs) dan berbagai penyakit yang berakar dari infeksi tersebut," ujar Prof. Didier Pittet, Lead Adviser of Clean Care is Safer Care & African Partnerships for Patient Safety, Health Service Delivery and Safety, WHO di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia / Indonesian Society of Infection Control (PERDALIN / INASIC), dr. Ronald Irwanto, SpPD - KPTI, mengatakan, standardisasi fasilitas kesehatan sangatlah penting sebab infeksi nosocomial bersifat iatrogenik; infeksi dapat terjadi pada saat tenaga kesehatan menggunakan peralatan medis untuk merawat pasiennya.

Infeksi saluran kemih biasanya menjangkit pasien pada saat penggunaan alat kateter dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan berdampak pada meningkatnya biaya medis serta efek samping lainnya seperti sepsis dan bahkan kematian”. Lebih lanjut, dr. Ronald Irwanto mengatakan,

“B.Braun sebagai anggota Private Organizations for Patient Safety (POPS) telah berkomitmen mendukung kampanye WHO dalam rangka mengedukasi para petugas kesehatan agar dapat menerapkan praktek hand hygiene yang tepat dan sesuai standar demi mencegah terjadinya penyebaran infeksi nosokomial.” jelasnya.

President Director PT B. Braun Medical Indonesia, Stephan Soyka mengatakan,  sebagai salah satu komitmen B.Braun dalam upaya mendukung kampanye “SAVE LIVES: Clean Your Hands”, pihaknya menyelenggarakan kegiatan “One Day Symposium Hand Hygiene Focus: Where are We Now” untuk mengedukasi dan memberikan informasi terbaru tentang standar hand hygiene kepada para tenaga kesehatan. B.Braun memiliki visi untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia.

Selama 10 tahun, B.Braun telah konsisten mendukung kampanye ini melalui produk hand disinfectant Softa-Man® yang merupakan produk disinfektan tangan berbahan alkohol sebagai upaya awal mencegah dan melindungi tangan dari penyebaran infeksi yang serta menyelamatkan masyarakat melalui pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial atau Health Care Associated Infections (HCAIs). “Kami berharap kepatuhan terhadap hand hygiene dapat terus ditingkatkan agar penyebaran infeksi khususnya di rumah sakit di Indonesia dapat dicegah dan dikurangi,” tutup Stephan Soyka. (red)

Guardians of the Galaxy Vol 2 Kokoh di Puncak Box Office

Litefmjakarta.com, Jakarta - Guardians of the Galaxy Vol. 2 masih kokoh di puncak box office. Film arahan James Gunn ini pun dengan sukses mengumpulkan hingga 246.2 juta dolar setelah dua pekan perilisan di Amerika Serikat.

Untuk perilisan global pekan ini,  film yang diperankan Chris Pratt berhasil mendapatkan 115.2 juta dolar. Sedangkan untuk pendapatan keseluruhan, mencapai 630.6 juta dolar.

Posisi kedua dalam box office pekan ini diambil oleh film bergenre drama komedi, Snatched, Film yang diperankan oleh Amy Schumer meraih penghasilan 17.5 juta dolar. Semetara untuk posisi ketiga berhasil diisi oleh film karya Guy Ritchie King Arthur: Legend of the Sword. Film tentang legenda di Britania Raya itu mendapatkan 14.7 juta dolar dengan modal produksi hingga 170 juta dolar. (red)

Cegah DM2 Dengan Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes

           Litefmjakarta.com, Jakarta - Prediabetes yang merupakan pencetus Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) di Indonesia bagaikan fenomena gunung es. Banyak mereka yang sebenarnya sudah pada tahap prediabetes namun tidak menyadarinya. Karena itu deteksi dini dan pencegahan prediabetes menjadi sangat penting.

           "Deteksi dini prediabetes sangat penting sebagai upaya menekan tingginya angka DMT2, karena prediabetes tidak hanya menyerang kelompok usia tua. Namun, juga sudah ditemukan di kelompok usia muda serta produktif. Bahkan, data kami dari Puskesmas di Jakarta, ada yang masih SMA," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, dr Widyastuti MKM, di sela-sela acara “Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes” di Jakarta, Kamis (4/5/2017).

            Menurut dr Widyastuti, Dinkes DKI telah melakukan berbagai upaya edukasi dan pencegahan prediabetes dengan menerjunkan tim dari puskesmas yang langsung mengedukasi masyarakat tentang pencegahan prediabetes. Saat ini, pihaknya juga menjajaki kerjasama dengan beberapa Mall di Jakarta untuk melakukan edukasi prediabetes.

           “Saat ini sudah ada tiga Mall yang bekerjasama dengan Dinkes dalam edukasi pencegahan Prediabetes,“ jelasnya.

            Selain itu, lanjut dr Widyastuti, diperlukan edukasi pencegahan kepada mereka yang telah di vonis prediabetes. Mulai dari perubahan pola makan dengan mengurangi asupan gula, garam, dan lemak. "Selain itu, mengkonsumsi gizi seimbang. Ditambah lagi, aktifitas fisik. Mereka harus mengganti gaya hidup agar terhindar dari diabetes," ujarnya.

             Edukasi 100 Dokter Umum Puskesmas di DKI Jakarta